Perawat terseret kedalam pusaran mega korupsi E-KTP

Masih ingat kasus Papa nabrak tiang listrik? Waktu itu masyarakat dihebohkan oleh beberapa kejanggalan diantaranya kerusakan tiang listrik tidak sesuai dengan kerusakan pada mobil, pengacara Setya Novanto mengatakan kepala Setya Novanto benjol sebesar bakpao ternyata benjolan tidak nampak, perban dipasang terkesan memaksakan, infus tidak ditusuk tapi cuma ditempelkan dilengan.

Selidik punya selidik KPK ternyata mencium gelagat adanya upaya merintangi penanganan kasus korupsi E-KTP yang melibatkan dr. Bimanesh yang berpraktik di RS. Medika Permata Hijau. Bimanesh saat ini telah ditetapkan sebagai terdakwa oleh pengadilan Tipikor.

Dua perawat dijadikan saksi Bimanesh

Bagi Indri Astuti dan Nurul Rahmah Nuari, dua perawat RS. Medika Permata Hijau sama sekali tidak pernah menyangka bahwa mereka berdua akan terseret pada kasus Korupsi E-KTP. Walaupun hanya dijadikan sebagai saksi, namun hal ini membuat mereka berdua shock dan menjadi beban mental yang berat. Apalagi bagi mereka berdua pengadilan adalah hal yang sangat asing dan menakutkan.

Tekanan mental yang dirasakan olehnya setidaknya tergambar dari air mata yang mengalir dipipinya saat majelis hakim mencecar dengan pertanyaan seputar perawatan pada Setya Novanto di rumah sakit. Beberapa kali pula majelis hakim berupaya untuk menenangkan mereka berdua.

Dalam penjelasannya, Indri menyatakan bahwa selama merawat Setya Novanto banyak tindakan-tindakan yang tidak sesuai hati nuraninya. Misalnya ketika Setya Novanto meminta untuk memasang perban pada bagian tangannya. Menurut Indri, luka tersebut hanya luka ringan jadi tidak perlu diperban. Namun karena pemintaan pasien (yang notabene pejabat publik) dan diperkuat dengan perintah dari Bimanesh akhirnya Indri melakukan perban ditangan hingga siku Setya Novanto.

“Lukanya tidak perlu diperban, tapi karena permintaan maka dipasang, dokter Bimanesh juga meminta diperban agar pasien merasa nyaman” Kata Indri menjelaskan.

Dukungan moral dari sejawat perawat

Pada persidangan 2 April lalu hadir berberapa perawat rekan kerja Indri dan Nurul untuk memberikan dukungan moral. Saat istirahat makan siang, Indri dan Nurul menghampiri teman-temannya, tangisan dan pelukan haru tidak bisa dihindarkan.

“Kalian harus kuat, jangan takut. Allah tahu kalian kuat, itu kenapa kalian ada disini. Kalian harus tetap semangat,” ujar seorang perawat senior memberikan semangat.

Menurut informasi dari salah satu pengurus PPNI, kasus ini telah dikonsultasikan kepada DPW PPNI DKI Jakarta. PPNI DKI Jakarta menyatakan akan memberikan dukungan yang diperlukan. Redaksi pun mendapat kabar perihal akan adanya Bantuan Hukum dari BBHAP (Badan Bantuan Hukum dan Advokasi Perawat). BBHAP merupakan lembaga bantuan hukum bentukan PPNI pusat.

Red.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s