Perawat ditahun politik : Memanfaatkan atau dimanfaatkan?

cropped-aksi-perawat-16-3-2017-228.jpgMenurut informasi yang saya dapat, jumlah orang yang berprofesi sebagai perawat di Indonesia tidak kurang dari satu juta orang. Ini belum termasuk mahasiswa keperawatan yang masih duduk dibangku kuliah atau yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Sekitar 34 ribu orang mahasiswa keperawatan yang lulus setiap tahunnya. Jumlah yang sangat banyak. Bahkan saya berani bilang profesi perawat merupakan salah satu profesi terbesar di negeri ini.

Pertanyaannya adalah ditahun politik ini, dimana para calon kepala daerah berebut suara dan simpati rakyat, apakah perawat akan menjadi subjek atau objek politik. Dengan kata lain apakah bisa memanfaatkan moment politik atau justeru dimanfaatkan?

Jumlah sebesar itu tentu sangat menggiurkan bagi para politisi yang haus dukungan dan pundi-pundi suara. Kerjasama dengan organisasi profesi atau komunitas perawat menjadi sangat strategis dalam proses pemenangan politik. Tidak heran politisi-politisi sangat mudah diundang menjadi pembicara pada acara -acara atau kegiatan perawat. Bahkan kalo boleh, saya katakan mereka sangat antusias. Ada yang tulus untuk memperjuangkan kepentingan perawat ada juga yang sekedar ajang pencitraan.

Nah, idealnya kalo menurut saya jumlah yang sangat besar itu bisa menjadi bargaining yang kuat untuk ikut mewarnai perpolitikan saat ini. Jujur saja, siapa yang bisa mewarnai politik, dialah yang paling mungkin kepentingannya terakomodir dan terealisasi. Kenapa? Karena jujur saja, demokrasi yang berlaku saat ini sangat erat dengan politik balas budi. Siapa yang berinvestasi dalam kemenangan persaingan politik, dialah yang akan menuai hasilnya nanti. Sudah menjadi rahasia umum hehehe….

Jadi menurut saya, mulailah para pimpinan organisasi dan komunitas perawat disemua level baik pusat maupun daerah untuk merapat kepada calon-calon kepala daerah untuk melakukan penjajagan mengenai komitment mereka dengan kepentingan profesi perawat ini. Gak perlu lihat apa bendera partainya, fokus saja pada sejauh mana komitmentnya terhadap perawat. Kenapa gak perlu lihat partainya? Kan kita yang mau memanfaatkan mereka untuk meraih tujuan profesi. Dalam pengamatan saya selama ini kalo kita terlalu mendewakan (red : ketergantungan) pada satu partai seringkali bukannya memanfaatkan justeru malah dimanfaatkan. Bener gak?

Berikut hal-hal yang menurut saya bisa diambil oleh pimpinan-pimpinan organisasi perawat dan tokoh-tokoh perawat ditahun politik ini :

  1. Mulailah dengan pemimpin dan tokoh perawat untuk duduk bersama untuk menentukan sikap, tujuan dan target bersama. Abaikan dulu perbedaan dan konflik selama ini, kepentingan profesi lebih utama dibandingkan masalah-masalah kecil dalam organisasi. Bukannya bersatu akam lebih kuat dari pada bercerai berai.
  2. Buatlah pemetaan disetiap daerah yang akan melakukan hajatan politik, siapa calon-calon yang akan bertarung. Teliti dan ujilah masing-masing kekuatan dan kelemahannya. Buat rangking peluang agar kita dapat gambaran jelas mengenai peta kekuatannya.
  3. Datanglah kepada calon-calon tersebut, mintalah untuk silaturahmi. Kalo sulit kontak langsung dengan calonnya, bisa lewat tim sukses atau partai pengusungnya. Saat pertemuan, sampaikanlah kekuatan dan posisi strategis profesi perawat kepadanya termasuk permasalahan yang dihadapi, saya jamin mereka akan tertarik. Kemudian tanyakanlah apa komitment mereka terhadap profesi perawat jika mereka terpilih. Jika calon yang kita temui sangat besar peluang menangnya, jangan ragu untuk menawarkan kontrak politik tertulis. Tentu hal ini agar mereka tidak lupa dengan komitmentnya saat sudah terpilih nanti.
  4. Jika ada kekuatan berimbang dalam pemetaan kita, bisa saja kita membagi kekuatan organisasi ke beberapa calon. Toh kita banyak sayap organisasi kan, ada DPW, DPD, Himpunan, komunitas dan lain-lain. Kita bisa menjalin komunikasi dengan beberapa calon dengan bendera yang berbeda. Hal ini untuk menghindari jika fokus pada satu calon ternyata calon lain yang menang justeru akan merugikan kita.
  5. Buatlah panggung untuk calon-calon kepala daerah tersebut dalam bentuk seminar, talk show atau bakti sosial. Mereka tentu senang, karena merek benar benar lagi butuh panggung saat ini. Ini juga akan melekatkan pada memory mereka akan perawat dan tentunya menbuat jalinan emosional yang kuat.
  6. Teruslah perkuat jalinan komunikasi dengan para calon kepala daerah tersebut, saran saya sedapat mungkin mendapat akses langsung, jangan hanya lewat tim sukses atau juru bicaranya.

Mungkin itu beberapa diantara hal yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan hingar bingar tahun politik ini. Berhasil tidaknya hanya waktu yang menjawab, tapi layak untuk dicoba. Ingatlah jika kita berinvestasi bisa untung atau rugi. Namun saya teringat salah satu petuah bijak : High Risk, High Profit. Tentu profit atau benefit yang dimaksud adalah kepentingan perawat terutama kesejahteraannya. Wallahualam.

(JS)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s