Faktor Resiko yang Berkaitan dengan Malnutrisi pada Lansia

0

Perawat seringkali akan menemui klien lanjut usia yang telah memiliki penurunan fungsi baik fisiologis, psikologis, afektif maupun sosial dan hal ini dapat mempengaruhi terpenuhinya asupan lansia. Perawat perlu memahami bahwa Lansia memiliki resiko malnutrisi lebih besar daripada kelompok usia lainnya. Penting untuk diketahui bahwa penuaan itu sendiri bukanlah penyebab malnutrisi pada lansia sehat. Malnutrisi termasuk undernutrition maupun overnutrition mengindikasikan defisiensi nutrisi spesifik yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit.

Faktor resiko malnutrisi menurut Unosson et al (1991 dalam Lueckenotte, 1996) terdiri atas fisiologis, psikologis, afektif, dan sosial. Faktor resiko secara fisiologis yakni:

  1. Perubahan tubuh yang terjadi pada beberapa lansia, penurunan nafsu makan (seperti: penurunan indera penciuman, perasa dan penglihatan yang kabur).
  2. Penurunan efisiensi penyerapan nutrien pada usus halus (misalnya: presentase kecil kalsium yang diserap) sehingga sedikit yang tersedia untuk fungsi sistemik optimum.
  3. Melambatnya peristaltik disebabkan oleh makanan yang mengandung karsinogen potensial atau toksin yang tetap berada dalam sistem pencernaan lebih lama.
  4. Sifat asam alamiah lambung dapat berkurang hingga derajat dimana lambung membentuk lingkungan basa (Seperti hypochlorhydria dan achlorhydria, keduanya menyebabkan sulitnya penyerapan protein).
  5. Penyakit kronis dapat meningkat pada lansia. Perbaikan pada malnutrisi adalah tindakan untuk memperlambat proses penyakit.
  6. Penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, osteoporosis dan penurunan kognitif.
  7. Sejumlah kondisi dan situasi dimana lansia berusia 70-80 tahun menggunakan alkohol untuk “penenang”. Jika alkohol disalahgunakan, hingga timbul kelelahan, hilang kesadaran, pengabaian diri seringkali menyebabkan sedikitnya makan.
  8. Kesulitan Oral (seperti luka sariawan, hilangnya gigi, peradangan gusi, periodontitis, atau sakit karena pemakaian gigi palsu) bisa membuat makan menjadi sebuah tugas bukan kesenangan.
  9. Polypharmacy merupakan masalah yang terlalu umum pada malnutrisi. Resep obat yang beraneka ragam sekarang diketahui secara serius mempengaruhi nafsu makan dan penyerapan nutrisi.
  10. Hospitaslisasi mungkin dibutuhkan untuk penyakit akut, namun masa menginap dapat menyebabkan malnutrisi yang signifikan.

Faktor resiko secara psikologis/ social, antara lain:

  1. Depresi yang terjadi pada lansia seringkali menurunkan keinginan untuk makan terutama makanan sehat. Perubahan fisik, situasional atau afektif pada lansia menyebabkan masalah sikap. Strategi adaptasi koping baru perlu dibentuk.
  2. Kesepian merupakan teman yang menghancurkan pada kehidupan lansia. Selama rentang kehidupan, makan adalah aktivitas berbagi.
  3. Stereotipe sosial tentang lansia seperti kepercayaan isolasi yang memperburuk, hilangnya harga diri, peningkatan rasa yang tak terhindarkan yang menjadi “Kurang dari”.
  4. Kemiskinan. Penting untuk mengetahui bahwa beberapa lansia yang rawat jalan atau rawat inap mungkin tidak berada pada posisi secara ekonomis untuk tinggal atau memelihara diet seimbang.

Beberapa faktor resiko yang mempengaruhi pencernaan dan nutrisi pada lansia juga dikemukanan oleh Miller (2010):

1.   Ketidakadekuatan perawatan oral.

Rendahnya oral hygiene menyebabkan stomatitis, xerostomia, hilangnya gigi, cares gigi, penyakit periodontal yang mengganggu pilihan makanan dan nutrisi serta kenikmatan saat makan.

2.   Gangguan fungsi dan proses penyakit.

Gangguan fungsi secara kuat berhubungan dengan rendahnya nutrisi dan kesulitan penyediaan makanan. Disphagia pada lansia umumnya disebabkan oleh gangguan neurologis seperti stroke dan demensia. Gastritis kronis pada lansia merupakan penyebab defisiensi vitamin B12. Kondisi patologis lain juga mengganggu nafsu makan dan kenikmatan makanan. Contohnya infeksi, hipertiroidisme, hipoadrenalisme, gagal jantung kongestif berhubungan dengan anoreksia, sedangkan kondisi rheumatoid dan COPD dapat menyebabkan penurunan nafsu makan dan peningkatan pengeluaran energi.

3.   Efek medikasi.

Medikasi menciptakan faktor resiko untuk gangguan pencernaan dan ketidakadekuatan nutrisi melalui efek sampingnya pada pencernaan, pola makan dan pemakaian nutrisi seperti anoreksia, xerostomia, mudah kenyang, gangguan penciuman dan persepsi rasa. Konstipasi merupakan efek samping umum lainnya pada banyak pengobatan, terutama obat yang beraksi di sistem saraf pusat. Ileus paralisis yang memiliki pengaruh serius pada fungsi pencernaan, dapat berasal dari pengobatan antikolinergik atau hipokalemia yang disebabkan oleh diuretik.

4.   Faktor gaya hidup.

Alkohol dan merokok dapat merubah status nutrisi lansia dengan berbagai cara. Alkohol tinggi kalori, namun rendah nutrien selain itu juga akan mengganggu penyerapan vitamin B kompleks dan vitamin C. Merokok menyebabkan hilangnya kemampuan penciuman dan merasakan makanan serta mengganggu penyerapan vitamin C dan asam folat.

5.   Faktor Psikososial

Faktor psikososial berpengaruh terhadap nafsu makan dan pola makan lansia. Jika seorang lansia sangat tergantung terhadap pasangannya dalam penyiapan makanan, maka saat kehilangan pasangannya tersebut lansia alan mengalami perubahan pola makan atau kemampuan untuk mendapatkan makanan.

6.   Faktor Budaya dan sosial ekonomi.

Latar belakang budaya, kepercayaan, dan faktor budaya lainnya secara kuat mempengaruhi bagaimana cara seseorang mendefinisikan, memilih, menyiapkan, dan memakan makanan dan minuman.

7.   Faktor Lingkungan.

Lansia di panti atau fasilitas rawat inap dapat kesulitan menyesuikan diri pada lingkungan yang tidak familiar. Ruang makan yang bising dan riuh dapat memberikan pengaruh buruk pada kenikmatan dan konsumsi makanan.

8.   Perilaku berdasarkan mitos dan kesalahpahaman.

Kesalahpahaman pada intake cairan, seperti banyaknya lansia yang mengurangi jumlah konsumsi cairan dengan harapan bahwa tindakan ini dapat mengurangi terjadinya inkontinensia urin.

Pemahaman pada berbagai faktor resiko yang berkaitan dengan malnutrisi pada lansia ini penting diketahui perawat saat merawat klien lansia, dengan harapan perawat dapat lebih peka akan kebutuhan klien lansia sehingga dapat memberikan perawatan yang optimal.

 

Referensi:

Lueckenotte, A.G. (1996). Gerontologic nursing. USA: Mosby-Year Book, Inc.

Miller, C.A. (2010). Nursing for wellness in older adults: theory and practice. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Rub Hands

Kebersihan Tangan (Hand Hygiene) dalam Tindakan Medis dan Keperawatan

0

Tangan merupakan sumber utama penyebaran infeksi nosokomial di lingkungan pelayanan kesehatan. WHO (2009) menyebutkan bahwa kebersihan tangan (hand hygiene) merupakan hal paling penting untuk mencegah penyebaran kuman dan  infeksi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Hal ini didukung oleh pernyataan Longtin, et al (2011) dalam New England Journal of Medicine yang menyebutkan bahwa pemenuhan kebersihan tangan (hand hygiene) ini masih dibawah 40%, sedangkan hal ini sangat penting untuk mencegah transmisi silang bakteri.

Kulit manusia didiami oleh banyak bakteri yang berkoloni. Bakteri ini dapat menyebar di lingkungan sekitar pasien seperti tempat tidur, selimut, perabot, bahkan tiang infus sekalipun. Oleh karena itu, diindikasikan perlunya kebersihan tangan sesaat sebelum kita memasuki area pasien dan bersentuhan dengan pasien, sesaat setelah meninggalkan area pasien, setelah kontak dengan darah dan atau cairan tubuh, membran mukosa, linen, peralatan yang terkontaminasi atau pembuangan, segera setelah melepaskan sarung tangan, sebelum dan sesudah prosedur aseptic dan steril, diantara tindakan pada bagian tubuh yang berbeda, sebelum dan sesudah makan, minum, merokok, memakai kosmetik, atau menyiapkan makanan, saat tiba di tempat kerja atau meninggalkan tempat kerja.

WHO (2009) menyebutkan lima momen penting perlunya hand hygiene, yakni: Sebelum menyentuh pasien; Sebelum prosedur aseptic, hal ini untuk meminimalkan resiko infeksi pada pasien; Setelah resiko terpapar cairan tubuh; Setelah menyentuih pasien; dan Setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien.

Hand hygiene ini dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama dengan menggosok tangan menggunakan larutan alkohol yang mengandung 60-80% ethanol, iso propanol, atau n-propanol, hal ini dapat dilakukan segera sebelum atau setelah kontak dengan pasien dan apabila tangan tidak terlihat ada kotoran atau dengan mencuci tangan menggunakan sabun antibakteri dan air lalu mengeringkannya dengan kertas sekali pakai, hal ini dapat dilakukan jika tangan benar-benar terlihat kotor oleh cairan tubuh, seperti darah atau kotoran lain.

Perlu diingat, sebelum melakukan hand hygiene, lepaskan perhiasan dan jam tangan, pastikan kuku tangan tidak panjang, tidak disarankan penggunaan kuku palsu dan obati dulu apabila tangan mengalami iritasi atau terkena jamur.

Dokumnetasikan tindakan hand hygiene terutama mencuci tangan pada setiap tindakan aseptik dan steril.

Prosedur hand hygiene menurut WHO (2009) dapat dilihat pada gambar berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prosedur hand hygiene juga dapat dilihat pada video berikut:

Hand Hygiene by NEJM, 2011.

Referensi:

WHO (2009), Hand Hygiene: Why, How & When? http://www.who.int/gpsc/5may/Hand_Hygiene_Why_How_and_When_Brochure.pdf

Longtin, et all (2011), Hand Hygiene, Video in clinical medicine from New England Journal of Medicine.

 

Untitled

Selamat Datang di mediaperawat.com

2

Salam Sejawat,

mediaperawat.com hadir untuk mempersatukan perawat di seluruh Indonesia. Memberikan informasi dengan mudah mengenai info dalam dunia keperawatan juga artikel-artikel menarik seputar dunia keperawatan. Kami hadir dengan semangat berbagi ilmu untuk  sesama perawat. Semoga semangat ini dapat membuat mediaperawat.com bermanfaat bagi teman perawat semua, sehingga dapat memajukan ilmu keperawatan di Indonesia.

Tak ada gading yang tak retak, mungkin banyak artikel kami yang belum sempurna. Oleh karena itu, kami sangat menghargai ide, kritik dan saran yang membangun dari teman teman sejawat bagi perbaikan website ini.

Terimakasih sebelumnya.

 

Regards,

mediaperawat.com

Go to Top